![]() |
| ilustrasi gambar |
Tubuhnya kurus. Kalau tertawa maka akan terlihat lesung pipit yang membuatnya terlihat menarik. Jika mendengar music biasanya dia langsung berjoget. Kalau belajar hobinya loncat ke sana kemari. Kadang-kadang aku pun diajaknya “berakrobat” dengan ditarik-tarik ke sana-sini. Kalau berbicara denganku dia selalu tertawa sambil sesekali menggelendot di punggungku atau mendekap lenganku. Sebentar-bentar selalu memanggilku dengan sebutan,”Ibuk”. Padahal sudah kesepakatan kalau sesiapa yang belajar denganku harus memanggilku dengan sebutan kakak bukan Ibuk!
Hingga suatu hari, malam yang lalu dia tidak hadir. Aku pun dibuat rindu dengan aksinya. Kutanyakan ke teman-teman perihal ketidakhadirannya. Akhirnya dari mulut anak-anak muncullah kisah tentang dia. “Kasian dia kak..sudah tidak punya ibuk. Ayahnya kawin lagi. Tapi sepertinya ibuk-nya yang baru kurang sayang dengan dia,kak”, kata mereka dengan logat melayu yang kental. Aku pun terenyuh mendengar ceritanya. Di usianya yang ke-delapan tahun tentu sosok ibu yang penuh kasih sayang akan menjadi dambaan bagi setiap anak.
Dan malam tadi dia pun hadir,“Ibuk…Ibuk..assalamu’alaikum”,katanya. Aku yang sedang di kamar pun langsung segera keluar menyambutnya..”Wa’alaikumsalam..Ya ampun, kemana saja kamu?tanyaku girang. “Semalam saya tertidur,buk. Malam ini saya nak belajar dengan ibuk.”,ujarnya sambil cengar cengir.
Aku pun mengangguk setuju seraya membalikkan badan menuju kamar untuk mengambil buku-ku yang tertinggal. TIba-tiba,dia memelukku dari belakang. Aku kaget. “Arul sayang dengan ibuk”,katanya dan kemudian langsung lari keluar. Aku pun terdiam. Terharu!
Ya. Seketika aku jadi teringat almarhumah ibuku. Aku rindu dengan beliau. Senyuman,pelukan,masakan hingga omelan. Aku rindu masa-masa itu!
Saat itu juga aku bersepakat dengan diriku untuk menjadi “ibuk” baginya setiap malam untuk beberapa jam.
Tidak berapa lama kemudian, kostku sudah dipenuhi anak-anak. Mereka langsung menyerbuku dengan kata-kata, “Kakak, kami ada PR”. Oke baiklah. Mari kita belajar. Mulai dari PPKN,Bahasa Inggris, Matematika, Sains, Agama, IPS hingga pelajaran Arab Melayu. AKu kelimpungan. Bagaimana tidak,belum saja selesai mengajarkan ini yang lain sudah minta “diperhatikan” untuk PRnya. Belum lagi yang mengadu karena dijahili temannya dan aku harus turun tangan mendamaikannya atau yang bermain kejar-kejaran sambil sesekali berteriak. Benar-benar seru,Haha!
Yang menarik adalah ketika pelajaran Matematika. Aku yang sejak dulu anti hitung-hitungan “dipaksa” harus kembali mengerti soal-soal yang tersaji di buku paket tersebut. Mulai dari akar pangkat sampai bilangan desimal membuatku pening seketika. “Coba sini kakak tengok buku-mu, kakak harus belajar dulu ya,atau apakah ada diantara kalian yang sudah mengerti?Coba ajarkan kakak,”kataku terus terang. Mereka pun tertawa.
Matematika selesai datang lagi anak yang lain. Mereka menyodorkan sekumpulan tulisan Arab tanpa ada tanda-tanda titik dan harakat alias Arab gundul. Mereka bilang ini pelajaran bahasa Arab Melayu. Apa pula ini?pikirku dalam hati. Alamak belum pernah seumur-umur aku belajar hal beginian. Hasilnya bukan aku yang membantu PR mereka malah aku yang belajar dari mereka. Mereka pun antusias sekali mengajarkan bahasa tersebut dengan sesekali tertawa saat aku salah menyebutkan kata di dalamnya.
Dan malam tadi tiba-tiba ada yang mengantarkan aqua se-dus. Katanya ini untukku dan anak-anak yang belajar di sini. Aku sempat menolak namun Sang Bapak yang notabene adalah Bapak kost-ku di sini sangat memaksa maka akupun menerimanya. Anak-anak pun segera mengambil aqua satu persatu. Alhamdulillah!
Di sini, setiap hari aku selalu menemukan pelajaran baru. Kudapatkan dari mereka,anak-anak! Terus terang tanpa kepalsuan. Senyuman yang tulus hingga tawa yang membahagiakan. Ya, aku belajar pada mereka setiap hari. Untuk selalu tersenyum dan tertawa. Suatu hari ada seorang teman yang berkata kepadaku,”Banyak hal yang menyakitkan terjadi dalam hidup kita tapi hal yang paling menyakitkan adalah ketika kita gagal tersenyum”. Apakah hari ini kalian sudah tersenyum?
Hingga suatu hari, malam yang lalu dia tidak hadir. Aku pun dibuat rindu dengan aksinya. Kutanyakan ke teman-teman perihal ketidakhadirannya. Akhirnya dari mulut anak-anak muncullah kisah tentang dia. “Kasian dia kak..sudah tidak punya ibuk. Ayahnya kawin lagi. Tapi sepertinya ibuk-nya yang baru kurang sayang dengan dia,kak”, kata mereka dengan logat melayu yang kental. Aku pun terenyuh mendengar ceritanya. Di usianya yang ke-delapan tahun tentu sosok ibu yang penuh kasih sayang akan menjadi dambaan bagi setiap anak.
Dan malam tadi dia pun hadir,“Ibuk…Ibuk..assalamu’alaikum”,katanya. Aku yang sedang di kamar pun langsung segera keluar menyambutnya..”Wa’alaikumsalam..Ya ampun, kemana saja kamu?tanyaku girang. “Semalam saya tertidur,buk. Malam ini saya nak belajar dengan ibuk.”,ujarnya sambil cengar cengir.
Aku pun mengangguk setuju seraya membalikkan badan menuju kamar untuk mengambil buku-ku yang tertinggal. TIba-tiba,dia memelukku dari belakang. Aku kaget. “Arul sayang dengan ibuk”,katanya dan kemudian langsung lari keluar. Aku pun terdiam. Terharu!
Ya. Seketika aku jadi teringat almarhumah ibuku. Aku rindu dengan beliau. Senyuman,pelukan,masakan hingga omelan. Aku rindu masa-masa itu!
Saat itu juga aku bersepakat dengan diriku untuk menjadi “ibuk” baginya setiap malam untuk beberapa jam.
Tidak berapa lama kemudian, kostku sudah dipenuhi anak-anak. Mereka langsung menyerbuku dengan kata-kata, “Kakak, kami ada PR”. Oke baiklah. Mari kita belajar. Mulai dari PPKN,Bahasa Inggris, Matematika, Sains, Agama, IPS hingga pelajaran Arab Melayu. AKu kelimpungan. Bagaimana tidak,belum saja selesai mengajarkan ini yang lain sudah minta “diperhatikan” untuk PRnya. Belum lagi yang mengadu karena dijahili temannya dan aku harus turun tangan mendamaikannya atau yang bermain kejar-kejaran sambil sesekali berteriak. Benar-benar seru,Haha!
Yang menarik adalah ketika pelajaran Matematika. Aku yang sejak dulu anti hitung-hitungan “dipaksa” harus kembali mengerti soal-soal yang tersaji di buku paket tersebut. Mulai dari akar pangkat sampai bilangan desimal membuatku pening seketika. “Coba sini kakak tengok buku-mu, kakak harus belajar dulu ya,atau apakah ada diantara kalian yang sudah mengerti?Coba ajarkan kakak,”kataku terus terang. Mereka pun tertawa.
Matematika selesai datang lagi anak yang lain. Mereka menyodorkan sekumpulan tulisan Arab tanpa ada tanda-tanda titik dan harakat alias Arab gundul. Mereka bilang ini pelajaran bahasa Arab Melayu. Apa pula ini?pikirku dalam hati. Alamak belum pernah seumur-umur aku belajar hal beginian. Hasilnya bukan aku yang membantu PR mereka malah aku yang belajar dari mereka. Mereka pun antusias sekali mengajarkan bahasa tersebut dengan sesekali tertawa saat aku salah menyebutkan kata di dalamnya.
Dan malam tadi tiba-tiba ada yang mengantarkan aqua se-dus. Katanya ini untukku dan anak-anak yang belajar di sini. Aku sempat menolak namun Sang Bapak yang notabene adalah Bapak kost-ku di sini sangat memaksa maka akupun menerimanya. Anak-anak pun segera mengambil aqua satu persatu. Alhamdulillah!
Di sini, setiap hari aku selalu menemukan pelajaran baru. Kudapatkan dari mereka,anak-anak! Terus terang tanpa kepalsuan. Senyuman yang tulus hingga tawa yang membahagiakan. Ya, aku belajar pada mereka setiap hari. Untuk selalu tersenyum dan tertawa. Suatu hari ada seorang teman yang berkata kepadaku,”Banyak hal yang menyakitkan terjadi dalam hidup kita tapi hal yang paling menyakitkan adalah ketika kita gagal tersenyum”. Apakah hari ini kalian sudah tersenyum?
Salam,
_DW_
_DW_

Tidak ada komentar:
Posting Komentar