Kamis, 02 Oktober 2014

BELENGGU CINTA SUAMIKU

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ..
Diharapkan, setelah membaca kisah cinta suami istri menyentuh ini menjadi inspirasi para pembaca semua untuk menjadi suami istri yang baik, selalu setia dan mengerti serta memahami satu sama lainnya.
Dalam kisah tersebut diceritakan, sepasang muda-mudi yang menjalin rumah tangga bukan karna saling mencintai, akan tetapi karena paksaan orang tua. Sang istri sebenarnya sangat membenci suaminya, namun kebencian itu tidak pernah ia tunjukkan kepada siapapun dan bahkan sang istri tetap melayani suaminya selayaknya suami istri pada umumnya, karena memang itulah kewajibannya.
Seiring berjalannya waktu, mereka pun dikaruniai seorang anak, padahal dari awal sang istri sudah memutuskan untuk tidak mempunyai anak. Dan dari sinilah Kisah Suami Istri yang Mengharukan ini dimulai. Ok langsung saja kita simak kisah selengkapnya berikut ini ...

Jumat, 12 September 2014

Sukses mengelola perusahaan produsen dasi kupu-kupu di usia 11 tahun

Harian Kompas, Jumat, 12 September 2014
Usia bukan menjadi penghalang seseorang untuk sukses dalam kehidupannya. Salah satu contohnya adalah Moziah "Mo" Bridges (11), yang pada usianya yang sangat belia sukses mengelola perusahaan produsen dasi kupu-kupu.
Kesukaannya akan dasi kupu-kupu sudah dimulai sejak Mo berusia empat tahun. Dia selalu ingin berdandan rapi, lengkap dengan dasi kupu-kupu ke mana pun dia pergi, bahkan saat harus pergi ke toko sambil menunggang sepedanya.

Senin, 30 Juni 2014

Balada si Yepi

Si Yepi Hydron menyusuri Anambas (lanjutan)
Angin membelai dan melenakan diri. Sejauh mata memandang, laut biru menghampar, membentang rata. Riak kecil bagaikan kerikil di padang pasir memeriahkan suasana laut. Nun jauh lagi, onggokan tanah menggunung tampak berkabut. Padu warna kehijauan itu berjabat dengan biru laut menyejukkan mata, manarik sudut bibir ke atas: senyum damai duniaku.
Melawati jalan di bibir pantai Tarempa, si Yepi pelahan beranjak menuju sekolah. Pagi itu ia mengunjungi penggemarnya yang berada di SMPN

Sabtu, 07 Desember 2013

G.U.R.U
















Pagiku cerahku

matahari bersinar…
ku gendong tas merahku
di pundak…

Slamat pagi semua
ku nantikan dirimu
di depan kelasku
menantikan kami..

Guruku tersayang
guru tercinta
tanpamu apa jadinya aku…

Tak bisa baca tulis
mengerti banyak hal..
guruku terima kasihku…

Nakalnya diriku kadang buatmu marah…
namun segala maaf kau berikan.. 

reff::

Guruku tersayang …
guru tercinta tanpamu apa jadinya aku…
tak bisa baca tulis mengerti banyak hal…
guruku terima kasihku…

Pagi tadi ada yang berbeda dari hari-hari sebelumnya di SMP 1 Palmatak. Sebelum belajar mengajar dilaksanakan sebanyak 20 siswa menyanyikan lagu diatas untuk para gurunya. Tanpa diiringi musik apapun dan dengan berbekal komando dari-ku yang berbunyi 1.2.3, mereka pun kompak bernyanyi. Para guru yang mendengar terkesima. Antara bingung, kaget juga campur haru. Pasalnya selama sekolah ini berdiri tak pernah ada "upacara" seperti ini.
Setelah bernyanyi, ada siswa yang membacakan surat spesial untuk gurunya. Adalah Nerina Nur'aini, siswa kelas VII A yang memberikan suratnya pada Ibu Septi Nora.Setelah itu acara ditutup dengan salam dan mengucapkan Selamat Hari Guru dan saling mencium tangan para Bapak dan Ibu Gurunya. Sesaat kemudian suasana menjadi haru ketika para siswa memberikan suratnya kepada guru favorit masing-masing. Dan aku?mendapatkan bunga dari anak-anak dan juga dari Kepala Sekolah. Rasaku campur aduk!

Guru. Setiap mengeja pelan-pelan kata ini akan banyak sekali kenangan tentang mereka. Kini, saat kupejamkan mata dan kembali mengeja kata guru maka akan muncullah wajah guru-guru yang cukup berkesan di hatiku. Meraka adalah Guru SD-ku yang bernama Pak Slamet Riyadi. Guru SMP-ku yang bernama bu Mariyah, Guru SMA ku yang bernama bu Made,Guru Tae kwondo ku yang bernama Sabam Hari dan bu Anon, guru-ku di kampus.

Pak Slamet, sosoknya kecil, kurus, berkacamata besar. Jika tertawa akan sangat lucu sekali.Pasalnya gigi depan beliau sudah banyak yang tanggal. Namun, semangatnya untuk terus membuat kami para siswanya tertawa patut diacungi jempol. Hal yang paling berkesan buatku adalah saat pelajaran IPA. Beliau mencontohkan dengan memutar ember kecil-yang biasa dipakai untuk cuci tangan- dengan tangannya dan mengayunkan dengan cepat. Katanya itu pelajaran tentang rotasi bumi. Kami para murid terkesima dengan atraksi yang dibuat Pak Slamet dan juga diam-diam berkhayal bagaimana jika ember itu ternyata jatuh di atas kepala beliau. Sekarang, kabarnya beliau sudah meninggal dunia. Sangat sedih padahal aku ingin sekali berjumpa dengan beliau dan menceritakan hal ini.

Bu Mariyah dan bu Made cukup spesial sebab kedua guru inilah yang membantuku menemukan apa yang harus kuperjuangkan. Beliau berdua adalah guru yang paling mendukung setiap aku berkegiatan lomba. Baik menang ataupun kalah beliau pasti akan tetap menyemangatiku. Bu Mariyah malahan punya hobi memelukku setiap ada kesempatan. Kami sangat dekat. Lalu ada, Sabam Hari. Dari beliau aku belajar untuk menjadi wanita mandiri dan tangguh. Bukan saja fisik yang beliau latih tanpa mental para anak didiknya juga dilatih dengan baik. Harus percaya diri, tidak boleh mudah menyerah, selalu optimis dan ceria juga tidak boleh merasa kalah sebelum pertandingan dimulai adalah nilai-nilai yang berhasil Sabam tanamkan kepadaku dan juga teman-teman lainnya. Hasilnya aku masih bisa merasakan nilai-nilai tersebut sampai sekarang.

Sedangkan bu Anon, guru lainku yang sangat spesial. Banyak sekali memberiku wejangan tentang hidup khususnya yang berkaitan menjadi seorang wanita. Guru yang terakhir ini seperti melengkapi pelajaran tentang hidup-ku. Dengan segenap hati, aku mendoakan untuk kesehatan dan kebahagiaan para guru-ku tersebut!

Walaupun masih banyak sekali guru-guru yang juga hadir di luar bangku sekolah. Namun sayang, mungkin di edisi tulisan berikutnya aku akan menceritakan tentang mereka. Untuk sekarang aku hanya bisa mendoakan agar semua dalam keadaan yang baik dan sehat. Segera bisa bertemu dengan mereka kembali. Itu saja!

Sekarang melalui penampilan para siswa SMP 1 Palmatak, aku "meminjam" mereka untuk mengucapkan terima kasih kepada para guru-ku yang telah menjadi bagian dalam diriku. Melalui surat mereka yang ditulis dengan susah payah,aku pun ingin mengucap syukur atas kehadiran para guru-guru yang istimewa. Selamat Hari Guru untuk semua guru di pelosok negeri ini. Baik guru yang mengajar di sekolah dan di luar sekolah. 

Jika ada golongan yang didahulukan untuk masuk syurga, aku akan meminta pada Tuhan untuk mendahulukan mereka!

Cintaku untuk para guru-ku, SDN 05 Tanah Tinggi, Jakarta. SMPN 216, Jakarta. SMAN 77, Jakarta.

Salam,

_DW_

Minggu, 17 November 2013

Apakah hari ini kalian sudah tersenyum?

ilustrasi gambar
Tubuhnya kurus. Kalau tertawa maka akan terlihat lesung pipit yang membuatnya terlihat menarik. Jika mendengar music biasanya dia langsung berjoget. Kalau belajar hobinya loncat ke sana kemari. Kadang-kadang aku pun diajaknya “berakrobat” dengan ditarik-tarik ke sana-sini. Kalau berbicara denganku dia selalu tertawa sambil sesekali menggelendot di punggungku atau mendekap lenganku. Sebentar-bentar selalu memanggilku dengan sebutan,”Ibuk”. Padahal sudah kesepakatan kalau sesiapa yang belajar denganku harus memanggilku dengan sebutan kakak bukan Ibuk!