Senin, 30 Juni 2014

Balada si Yepi

Si Yepi Hydron menyusuri Anambas (lanjutan)
Angin membelai dan melenakan diri. Sejauh mata memandang, laut biru menghampar, membentang rata. Riak kecil bagaikan kerikil di padang pasir memeriahkan suasana laut. Nun jauh lagi, onggokan tanah menggunung tampak berkabut. Padu warna kehijauan itu berjabat dengan biru laut menyejukkan mata, manarik sudut bibir ke atas: senyum damai duniaku.
Melawati jalan di bibir pantai Tarempa, si Yepi pelahan beranjak menuju sekolah. Pagi itu ia mengunjungi penggemarnya yang berada di SMPN
1 Siantan. Di sana itu penggemar suka bertanya, dan tidak hanya bertanya. Mereka juga memberikan banyak masukan.
“Yepi Hydron, hari ini lah ade buku bahasa Korea?” Seorang siswa bertanya, lalu.
“Pi, ade bawa buku Puisi dan Prosa?” Berikutnya lagi.
“Ade latihan soal untuk UN?” Dan selanjutnya.
“Aih, aih, kenapa kamu ndak bawakan buku pesananku?” sergah satu siswa.
“Hei Yepi Hydron, dikasi lengkaplah isi bukunye. Masak ndak ada buku sejarah dunia?”
“Katanya jam 3 sore ada di lapangan bola? Kok kemaren ndok nampak, di mana?”
Senyum kecil menghiasi wajah Yepi. Selalu senyum. Pertanyaan bagi Yepi merupakan hadiah terindah, teruatama pada pagi hari itu. 
“Bahasa Korea belumlah balik. Jangan khawatir, akan saya siapkan untuk kamu kok.”
“Aih, aih. Kamu pesan buku apa ya? Pastikan pesananmu dulu, oke?”
“Tuh, ada latihan soal. Silakan ambil.”
Hampir satu jam si Yepi nongkrong, berjibaku keceriaan dengan penggemar di SMPN 1 Siantan. Kini, saatnya ia menuruni jalan kembali mengunjungi sekolah lain. Dengan membawa segebok pertanyaan dari penggemarnya di SMPN itu si Yepi meninggalkan halaman yang selalu dipenuhi dengan tawa-canda-riang siswa-siswa sekolah itu. 
Beberapa saat kemudian si Yepi Hydron tiba di SD 002.
“Hydron, Yepi, Hydron, Hydron, Hydron!” gemuruh serbuan anak-anak datang dari arah halaman sekolah.
Begitu rak mobi dibuka, cicitan suara anak-anak terdengar seperti lagu musik klasik. Ada yang menarik buku yang sudah dipegang siswa lain. Ada yang mendorong tubuh temannya agar bisa menerobos benteng siswa yang sudah berjajar di depan si Yepi Hydron. 
“Aku mau itu.”
“Aku mau ini.”
“Aku mau ini itu.”
“Aku mau...”
“Aku!” 
“A...”
“Aduuuuuuh! Kakiku terinjak.”
Gemuruh itu mereda dalam beberapa ketika. Anak-anak berangsur menuju damai. Kini semua mendapatkan apa yang diinginkannya: buku. Bak rasa cokelet, buku menjadi sesuatu yang menarik. Yang mencengangkan. Yang merindukan. Yang kadang teras pahit, lalu manis. Yang bisa membuat tertawa, lalu menangis. Yang membuatnya serasa candu. Mereka tenggelam dalam kediamannya. Namun pikirannya sibuk dengan hiruk pikuk dengan apa yang dituliskan dan digambarkan dalam buku yang mereka pegang. Persis apa yang pernah dikatakan oleh Fuad Hasan, kecanduan yang tidak membahayakan adalah kecanduan membaca.
Si Yepi menebarkan pandangan ke segala sudut kelas. Semua siswa menampakkan raut muka yang beraneka rupa. Sebenarnya tidak ada kesimpulan anak Indonesia minat bacanya rendah. Yang ada ialah akses dan ketersediaan bahan bacaaan rendah atau terbatas (KW).
bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar